<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?><?xml-stylesheet type="text/css" href="http://www.rsspect.com/css/generic.css"?><rss version="2.0">
<channel>
<title>Patraniaga</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6</link>
<description>A Member of Pertamina</description>
<language>en-us</language>
<image>
<title>Patraniaga</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6</link>
<url>http://myhope.hope.edu/s/425/images/editor/rss_feed_logo_large.gif</url>
</image>
<lastBuildDate>Mon, 28 Jun 2010 20:57:55 -0700</lastBuildDate>


<item>
<title>Pemberangkatan Ibadah Umroh Karyawan PT Patra Niaga ke Tanah Suci Mekah
</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=15</link>
<description>Jakarta, Untuk kedua kalinya, PT Patra Niaga memberikan penghargaan kepada Karyawannya yang beragama Islam untuk melaksanakan Ibadah Umroh ke Tanah Suci. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi Perusahaan atas capaian kinerja karyawan yang dinilai layak dan tepat sesuai kriteria yang ditetapkan untuk mendapatkan kesempatan melakukan ibadah umroh tersebut. Penetapan hasil seleksi dilakukan oleh Direksi atas usulan dari fungsi struktural Perusahaan setelah melalui beberapa kriteria penilaian sebelumnya.

Tahun 2010 ini, Patra Niaga memberangkatkan 30 jemaah terdiri dari 23 pekerja Patra Niaga baik karyawan organik maupun non organik dan 7 Orang sebagai apresiasi kepada mitra kerja Patra Niaga.

Patra Niaga bekerja sama dengan Nur Ramadhan sebagai penyelenggara dan pemandu ibadah Umroh di tanah suci mekah. Pembekalan pra ibadah diselenggarakan pada hari Jum’at 18 Juni 2010, atau 3 hari sebelum keberangkatan untuk menyampaikan tatacara menjalankan ibadah Umroh yang baik dan benar sampai dengan tatacara berpakaian ikhram kepada para jemaah.

Hasto Wibowo, Direktur Utama Patra Niaga, dalam sambutan Pelepasan Jemaah Umroh menyampaikan bahwa Program apresiasi dari perusahaan ini tentunya didasari dengan penilaian dari seluruh manajemen Patra Niaga. Jemaah yang berangkat ini, merupakan karyawan yang dinilai layak mendapatkannya dan disetujui oleh jajaran Direksi Patra Niaga. Tahun depan Insya Allah program Ibadah Umroh ini akan tetap dijalankan. “Allah sering kali menguji umatnya dengan berbagai cara, yang terlihat baik menurut kita belum tentu baik untuk kita, tetapi yang terlihat kurang baik menurut kita, mungkin itu merupakan yang terbaik untuk kita yang diberikan Allah SWT”, tutur Hasto dalam sambutannya. Hasto menambahkan bahwa “Kita jangan sekali tergolong orang yang sombong, harus mawas diri dan introspeksi terhadap kesalahan yang telah kita buat, ambilah hikmah yang terjadi dalam setiap peristiwa, karena itu merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada umatnya”.

Dalam pelepasan jemaah Umroh tersebut, Hasto memberikan sebuah Tas kepada salah seorang Jemaah, Anton Nugraha yang sehari-harinya bekerja sebagai Awak Mobil Tanki 1 atau Supir Mobil Tanki BBM yang merupakan simbolis atas keberangkatan untuk melakukan ibadah Umroh yang Insya Allah akan berangkat pada hari Senin 21 Juni 2010.</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:57:55 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114625</guid>
</item>


<item>
<title>Kick Off Meeting Implementasi My SAP Anak Perusahaan Patra Niaga
</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=14</link>
<description>Jakarta, PT Patra Niaga mengadakan peresmian kick off implentasi My SAP bagi anak perusahaan yaitu Patra Trading dan Patra Teknik. Patra Niaga sendiri telah menerapkan system MySAP pada awal Januari 2010. Go Live My SAP di Patra Niaga merupakan bagian dari transformasi demi meningkatkan mutu perusahaan. Pada 1 Juni 2010 merupakan awal peresmian Kick Off Implementasi system My SAP pada anak perusahaan Patra Niaga. Hasto Wibowo selaku Direktur Utama PT Patra Niaga meresmikan kick off implemetasi My SAP untuk dua anak perusahaannya, Patra Teknik dan Patra Trading yang dihadiri oleh VP IT Solution Bapak Susilo &amp; jajaran Pertamina di bagian CSS. Dalam sambutannya, Direktur Utama PT Patra Niaga mengatakan pemilihan My SAP adalah fondamental dan pilihan strategic untuk masa mendatang.

Perjalanan My SAP di Patra Niaga belum seluruhnya mengalami kelancaran, system MySAP ini merupakan “the beginning of the journey” yang menunjang Bisnis Patra Niaga. Pertimbangan Patra Niaga dalam mengimplementasikan My SAP di dalam Patra Trading dan Patra Teknik adalah dengan menggunakan system yang sama, maka proses konsolidasi akan lebih mudah.

Dalam sambutannya, VP IT Solution PT Pertamina  menyampaikan penggunaan My SAP di sesuaikan dari kebutuhan bisnis perusahaan dari aspek proses dan aspek kesiapan. My SAP merupakan system yang terintegrasi, pemanfaatan system My SAP pada pengimplementasian bisnis perusahaan akan memperoleh benefit yang maksimal. Pentingnya kerja sama seluruh unit diharapkan mampu memberikan apresiasi terhadap kick off implementasi My SAP untuk Patra Trading dan Patra Teknik. Peresmian diakhiri dengan pemukulan gong oleh Direktur Utama PT Patra Niaga sebagai awal dari Kick Off Implementasi My SAP.</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:57:10 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114624</guid>
</item>


<item>
<title>Patra Niaga Kerjasama Pasokan BBM dengan TWU</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=13</link>
<description>BOJONEGORO, “Kilang TWU memiliki produk dengan harga yang kompetitif dan tentunya keberadaan kilang ini dapat membantu meringankan beban Pertamina untuk memenuhi pasokan BBM di Jawa bagian Tengah. Dengan demikian disamping menambah pasokan BBM, maka cost transportasi BBM akan menjadi murah”.

Demikian disampaikan oleh Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Djaelani Sutomo usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara PT Patra Niaga dengan Kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) swasta milik PT Tri Wahana Universal (TWU), Bojonegoro Jawa Timur, jumat (14/5).

Menurut Djaelani, disamping meringankan beban Pertamina terhadap pasokan yang masih kurang karena bertambahnya kebutuhan volume BBM dalam negeri, kerjasama ini akan memberikan nilai tambah bagi anak perusahaan Pertamina yaitu Patra Niaga. “Dengan beroperasinya kilang TWU ini,  kami akan bisa mengurangi pasokan BBM dari import,” ungkapnya.

TWU memiliki kapasitas olah 6.000 BPD crude. Investasi mini Refinery kilang oleh TWU di Bojonegoro adalah juga membantu Pemerintah, Pertamina dan Mobil Cepu Limited (MCL) dalam menyalurkan produksi awal dari crude Banyu Urip (20.000 BPD). Produksi yang dihasilkan oleh TWU yaitu Off Gas, SRG (solvart), solar, dan Residue/ VTB.

Direktur Utama PT Patra Niaga Hasto Wibowo mengungkapkan kolaborasi antara Patra Niaga dan TWU tidak sekedar jual beli, tetapi juga value creation bersama. Tidak ada nilai investasi yang disiapkan Patra Niaga dalam kerjasama ini karena menggunakan infrastruktur yang eksisting.

“Kerjasama ini akan berlangsung selama satu tahun dan tidak menutup kemungkinan akan terus berlanjut. Dalam tahap pertama solar yang dihasilkan 12 ribu KL per bulan, kami harapkan kedepan akan dapat ditingkatkan lagi dan tentunya produk solar tersebut akan kami serap. Tentunya untuk ukuran skala nasional tergolong sangat kecil, tetapi bagi Pertamina ini sangat bermanfaat,” ungkap Hasto.

Selain kilang TWU, Hasto berharap dalam waktu dekat ini kilang migas Cepu dan kilang Humpuss dapat beroperasi kembali sehingga akan menciptakan nilai tambah untuk kepentingan bersama.

Lebih lanjut Direktur Utama PT Tri Wahana Universal (TWU), Rudi Tavinos menyampaikan bahwa jumlah pasokan untuk solar yang disediakan TWU bagi Patra Niaga berkisar 10 ribu KL hingga 13 ribu KL per bulan. Tidak menutup kemungkinan dalam kerjasama ini TWU akan menjual produk lain selain solar.

“Kerjasama ini sebagai tindak lanjut dari jual beli BBM dalam bentuk spot ke Patra Niaga sejak 18 Januari 2010. Tentunya dengan melihat Patra Niaga yang sudah lebih dulu leader di market, TWU terus melanjutkan kontrak kerjasama untuk saling menjual benefit dalam rangka mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Rudi.</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:55:42 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114623</guid>
</item>


<item>
<title>Pertamina dan Patra Niaga Memberikan Apresiasi Kepada Awak Mobil Tanki Jakarta</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=12</link>
<description>Jakarta, 19 April 2010, Patra Niaga diberi tanggung jawab dari Pertamina selaku Induk Perusahaan untuk menjamin keamanan Supply BBM ke SPBU-SPBU. Sampai sejauh ini, Pertamina memandang pelayanan distribusi BBM ke SPBU yang dikelola oleh Patra Niaga sudah cukup baik dan perlu dipertahankan. Peremajaan Mobil Tanki, penerapan system baru dan memperhatikan kesejahteraan Awak Mobil Tanki telah dilakukan Patra Niaga sampai saat ini.

Supir dan Kernet yang kita sebut Awak Mobil Tanki tersebut merupakan hal yang paling penting dalam menjaga stabilitas supply BBM tersebut. Tahun 2009 lalu, Patra Niaga telah membangun tempat peristirahatan untuk Awak Mobil Tanki di Depot Plumpang Jakarta dan Surabaya supaya para Awak Mobil Tanki sekedar dapat beristirahat bahkan tidur dengan nyaman di MESS tersebut. Pertamina dan Patra Niaga menyadari bahwa kondisi Awak Mobil Tanki perlu diperhatikan baik dari fisik, insentif dan rohani. Dengan sistem yang baru, maka Awak Mobil Tanki seharusnya telah mendapatkan insentif yang cukup besar supaya meminimalisir hal-hal yang tidak diharapkan untuk menjaga supply BBM saat ini. Tentu saja Patra Niaga memberikan sanksi kepada Awak Mobil Tanki yang kedapatan melakukan kesalahan, dari teguran hingga pemberhentian tidak hormat kepada pelaku pelanggaran, serta mengadakan acara kerohanian untuk pekerja Depot dan Para Awak Mobil Tanki.

Disetiap tahunnya Pertamina dan Patra Niaga memberikan apresiasi kepada Awak Mobil Tanki. Penilaian Awak Mobil Tanki terdiri dari Absensi, Displin, kelengkapan Alat Pelindung Diri, Kepatuhan pada Aturan, Kerapihan, minim keluhan dari Pelanggan, dan masih banyak kriteria penilaian lainnya.

Berkat hasil kerja keras di tahun 2009 yang baik, Pertamnia memberikan Apresiasi kepada seluruh Awak Mobil Tanki baik LPG dan BBM yang berada di Jakarta khusunya Depot Plumpang berupa jam tangan sebanyak kurang lebih 650 buah untuk para Awak Mobil Tanki. Operation Head Instalasi Tanjung Priuk Bapak Gema, memberikan semangat kepada para Awak Mobil Tanki bahwa “Kita Bisa” melakukan yang terbaik dalam bekerja, terus menjaga kondisi yang sudah baik ini, dan terus meningkatkan kwalitas dalam pelayanan supply BBM dan LPG untuk masyarakat.

Selain jam tangan, Pertamina memberikan 4 TV Toshiba ukuran 21”. Kinerja terbaik di tahun 2009 diberikan kepada 4 Awak Mobil Tanki, sbb:

1. Divisi Bahan Bakar Minyak :

Parmin, Awak Mobil Tanki 1 (driver) 
Mamad, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
2. Divisi Bahan Bakar Khusus :

Abdul Rozak, Awak Mobil Tanki 1 (driver)
Arifin Bin, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
Patra Niaga juga memberikan apresiasi kepada para Awak Mobil Tanki terbaik di bulan Januari 2010, Feburari 2010 dan Maret 2010, berikut daftar yang mendapatkan tambahan insentif :

Bulan Jauari 2010

1. Kategori Trasportasi Bahan Bakar Minyak :

Paino, Awak Mobil Tanki 1 (driver) 
Riwondo, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
2. Kategori Transportasi LPG:

Juhri, Awak Mobil Tanki 1 (driver)
Satum, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
Bulan Februari 2010

1. Kategori Trasportasi Bahan Bakar Minyak :

Ocim Nurhasim, Awak Mobil Tanki 1 (driver) 
Suherman, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
2. Kategori Transportasi LPG:

Suryana, Awak Mobil Tanki 1 (driver)
Koir, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
Bulan Maret 2010

1. Kategori Trasportasi Bahan Bakar Minyak :

Anton Nugraha, Awak Mobil Tanki 1 (driver) 
Agus Maulana, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
2. Kategori Transportasi LPG:

Malik, Awak Mobil Tanki 1 (driver)
Ningrat, Awak Mobil Tanki 2 (kernet)
Disela-sela penyerahan apresiasi tersebut Direktur Utama Patra Niaga, Hasto Wibowo mengatakan bahwa terima kasih kepada awak mobil tanki yang telah melakukan kinerja yang baik di tahun 2009, semoga terus melakukan yang terbaik dan meningkatkan kinerja. Kami manajemen terus berusaha memperhatikan seluruh pekerja Patra Niaga supaya para pekerja dapat meningkatkan kwalitas bekerja, sehingga dapat membuktikan kepada Pertamina bahwa kita bisa memberikan yang terbaik dalam bekerja khususnya dalam supply BBM kepada masyarakat.

Direktur Operasi Patra Niaga, Umar Fahmi juga turut memberikan apresiasi kepada J. Ashari yang mendapatkan kategori Supporting terbaik Patra Niaga Depot Plumpang tahun2009 – 2010. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerja terbaik, sebentar lagi kami akan mengumumkan bebrapa Awak Mobil Tanki yang akan kami beri apresisasi yaitu Umroh ke Tanah Suci, papar Umar dilanjutkan dengan tepuk tangan meriah para Awak mobil Tanki yang hadir di acara tersebut.</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:53:36 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114621</guid>
</item>


<item>
<title>Bisnis Bunker Patra Niaga</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=10</link>
<description>Jakarta – PT Pa tra Niaga dan PT Multi Terminal Indonesia melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) kerjasama pemasaran bahan bakar minyak dan produk Migas lainnya. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT Patra Niaga, Hasto Wibowo dan Direktur Utama PT Multi Terminal Indonesia, Sudjarwo di Jakarta, Senin (5/4).

Menurut Dirut Patra Niaga Hasto Wibowo, kerjasama yang dilakukan antara Patra Niaga dengan Multi Terminal Indonesia bertujuan melakukan sinergi antar badan usaha milik negara (BUMN) dalam hal bisnis bunker. “Untuk diketahui bahwa PT Patra Niaga merupakan anak perusahaan dari PT Pertamina (Persero) dan PT Multi Terminal Indonesia merupakan anak perusahaan dari PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Melalui kerjasama ini diharapkan dapat menghasilkan nilai tambah bagi kedua perusahaan lebih jauh lagi bagi para share holder,” ujar Hasto.

Hasto menjelaskan alasan Patra Niaga menggandeng Multi Terminal Indonesia (MTI), selain sebagai pengelola terminal, MTI juga mempunyai networking yang cukup baik dengan kapal-kapal baik dalam maupun luar negeri, sedangkan Patra Niaga sendiri mempunyai produk dan mempunyai pengalaman dalam mengelola bisnis bunker. “Ini kolaborasi yang sangat bagus bagi kedua belah pihak dan ini merupakan captive market,” tandasnya.

Lebih lanjut Hasto memaparkan dengan penandatanganan MoU ini diharapkan sinergi dari kompetensi masing-masing pihak dapat segera dieksekusi dalam waktu dekat ini. “Apalagi sudah ada good will dalam satu sampai tiga bulan ini untuk menangkap peluang di beberapa perusahaan mitra MTI untuk dilayani kebutuhan BBM nya. Artinya peluang besar sudah terlihat, tinggal bagaimana pengelolaannya saja terhadap konsumen,” harapnya.

“Kolaborasi bisnis ini diharapkan mempunyai kekuatan besar yang dapat langsung dirasakan oleh konsumen, terutama konsumen yang sudah menjadi mitra MTI harus benar-benar merasakan hasil dari kolaborasi ini,” kata Hasto.

Hasto mengungkapkan bahwa volume dari bisnis bunker sangatlah bagus. Paling tidak dalam tiga bulan ini potensi volume yang ada kisaran 150 – 300 KL per bulan kemungkinan bisa diraih. “Mungkin setelah itu akan ada skenario atau milestone kedua yang akan disiapkan bagi kedua belah pihak,” ujarnya.

Untuk strategi bisnisnya, Hasto mengungkapkan akan mengangkat critical issue yakni bagaimana menangkap kapal-kapal ocean going. Masalahnya, sekarang ini yang memberatkan pasar ocean going masuk ke perairan Indonesia dikarenakan bunker fuel masih terkena PPN (pajak). “Sampai sekarang masalah PPN ini sedang diperjuangkan pihak Pertamina, dan diharapkan kedepan untuk bisnis bunker, khusus pasar ocean going dibebaskan dari PPN seperti halnya bisnis Aviasi,” ujarnya.

“Kalau masalah penghapusan PPN terealisasi maka tinggal dari sisi pelayanan terhadap konsumen yang ditambah, agar dapat menangkap pasar ocean going yang tadinya mengisi di Singapura menjadi di Indonesia. Dan itu merupakan goal besarnya Pertamina sebagai korporat maupun Patra Niaga sendiri,” cetus Hasto.

Dalam kesempatan yang sama Dirut PT MTI Sudjarwo menjelaskan bahwa kerjasama yang dilakukan dengan Patra Niaga ini sangat baik. Mengingat cangkupan wilayah kerja MTI meliputi 10 provinsi di Indonesia, meliputi Jawa Barat, Jakarta, Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Bangka Blitung, dan Kalimantan Barat. “Selain wilayah kerja pada 10 provinsi itu, MTI juga melakukan kegiatan perdagangan bagi pasar ocean going, cargo, peti kemas, pergudangan, maupun logistik,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Sudjarwo, MTI mempunyai mitra kerja dikalangan BUMN diantaranya PLN, Telkom, Indosat, BP Migas, dan beberapa BUMN lainnya. “Kami juga menghandle untuk pengiriman barang-barang yang ada di dalam negeri maupun luar negeri,” jelasnya.</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:52:44 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114620</guid>
</item>


<item>
<title>GO LIVE Implementasi MySAP, era baru PATRA NIAGA Dahsyat</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=7</link>
<description>Mengawali Tahun Buku 2010, pada tanggal 4 Januari 2010 bertempat di Kantor Pusat PT Patra Niaga Lantai 15 Gedung Graha Elnusa, Jl. TB Simatupang Kav. 1B, Direktur Utama PT Patra Niaga – Hasto Wibowo meresmikan Go Live Implementasi MySAP ver 6.0. 

PT Patra Niaga sebagai Anak Perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor hilir MIGAS, sejak tahun 2002 telah mengimplementasikan Enterprise Resource Planning (ERP) system yakni SAP ver 4.6 C namun masih terbatas pada modul FI dan CO. Sejalan dengan perkembangan usahanya, khususnya peningkatan retail customer niaga BBM Industri, handling BBM industri dan transportasi BBM PSO (fleet management), perseroan melakukan transformasi menjadi ‘Integrated fuel service provider’ terkemuka yang handal dan kompetitif dengan cara meningkatkan kinerja usaha dan service level kepada pelanggan diantaranya dengan mentransformasi SAP 4.6C menjadi MySAP ver 6.0 dan mengimplementasikan modul FI, CO, MM-hydro, MM-nonhydro, SD dan HR. 

Selain itu Implementasi MySAP Patra Niaga dimaksudkan:


Merupakan salah satu realisasi dari Transformasi di Patra Niaga, selain transformasi lainnya yang akan berjalan terus menerus kedepan.

Percepatan proses administrasi dan on time report, yang sekaligus perbaikan pelayanan kepada pelanggan, transparansi &amp; GCG, sehingga Manajemen dapat mengambil kebijakan &amp; keputusan dengan cepat &amp; tepat.

Tools untuk pembenahan operasional yang lebih prima, sehingga perusahaan dapat mengontrol persediaan BBM Industri yang merupakan bisnis pokok perusahaan, selain itu kesiapan Operasi dalam menjalankan distribusi BBM subsidi juga lebih terjamin.

Penghematan biaya dan waktu, baik proses pembelian, penjualan, pengiriman, penagihan, dan sampai dengan penutupan Laporan Keuangan, sehingga seluruh kegiatan proses bisnis perusahaan menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih akurat.


Proses implementasi MySAP di PT Patra Niaga mendapat dukungan penuh dari Corporate Shared Services PT Pertamina (Persero) dan diselesaikan selama 4 bulan sejak kick-off meeting 31 Agustus 2009. 

Dalam sambutannya, SVP Corporate Shared Service mewakili PT Pertamina (Persero) menyampaikan ucapan selamat kepada Patra Niaga telah memulai suatu ‘journey’ menuju efektifnya implementasi MySAP dan dalam ‘journey’ tersebut adanya penyesuaian disana sini adalah hal yang biasa. Dengan implementasi MySAP di Patra Niaga menunjukkan bahwa bisnis sudah tidak bisa lepas dari IT. Patra Niaga bisa meningkatkan daya saing dan kemampuan daya saingnya, juga kualitas layanan kepada pelanggan.
</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 20:50:29 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114618</guid>
</item>


<item>
<title>Patra Niaga siap bersaing</title>
<link>http://www.patraniaga.com/?node=6&amp;sts=detail&amp;id=3</link>
<description>Jakarta, 12 April 2008, Presdir PT Patra Niaga Toharso mengatakan, masuknya pemain-pemain asing telah menggerogoti pasar Pertamina, terutama pelanggan industri. Karena itu, Patra Niaga sebagai anak perusahaan Pertamina, ditugasi untuk bersaing merebut kembali pelanggan-pelanggan tersebut.

"Jadi, kini kami head to head dengan perusahaan asing," ujar Toharso, di Jakarta Jumat (11/04). Ia mengakui, bersaing dengan pemain asing bukanlah hal gampang. Karena itu, Patra Niaga dituntut untuk meningkatkan efisiensi agar bisa bersaing. "Terutama soal harga," katanya.

Menurut Toharso, beralihnya pelanggan industri dari Pertamina ke perusahaan lain, lebih disebabkan harga yang ditawarkan perusahaan asing lebih menarik dalam artian lebih murah.

Karena itu, dia menjamin harga yang ditawarkan Patra Niaga pun pasti lebih murah dibandingkan harga Pertamina, sehingga bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing. "Karena itu, kami memang harus sangat efisien," terangnya.

Tahun ini, lanjut Toharso, pihaknya menargetkan rata-rata penjualan BBM sebesar 15 ribu metrik ton per bulan. Jika itu tercapai, maka revenue Patra Niaga akan meningkat dari Rp 1,4 triliun pada 2007 menjadi sekitar Rp 2 triliun.

Bahkan, Toharso menargetkan revenue bisa menembus angka Rp 20 triliun dalam jangka waktu dua atau tiga tahun ke depan. "Ini bukan mimpi, ada hitungannya," ujarnya optimistis.

Menurut dia, nilai total bisnis BBM di Indonesia saat ini mencapai angka Rp 200 triliun. Dari angka tersebut, sekitar 30% kini sudah lepas dari Pertamina dan dikuasai pemain asing. Kalau Patra Niaga bisa mengambil 10% saja, maka nilainya sudah Rp 20 triliun. "Ini sangat mungkin," tandasnya.

Saat ini, kata Toharso, Patra Niaga terus membidik perusahaan-perusahaan besar. Beberapa perusahaan yang sudah menjadi pelanggan Patra Niaga, di antaranya produsen ban Gadjah Tunggal, Mitsubishi Chemical Indonesia, serta perusahaan listrik swasta Makassar Power.

Selain itu, Patra Niaga juga akan kembali ikut tender penyediaan BBM PLN untuk PLTD Samarinda dan PLTD Pontianak. Pada tender pertama BBM PLN lalu, Patra Niaga dikalahkan oleh Shell.

Shell akan memasok minyak solar atau HSD sebanyak 850 ribu kilo liter (KL) per tahun selama tiga tahun. Rinciannya, 250 ribu KL dipasok ke PLTGU Belawan, Medan. Kemudian, 600 ribu KL lainnya dipasok ke PLTGU Grati, Jatim. Nilai kontrak untuk Belawan senilai Rp 5,4 triliun dan Grati senilai Rp 13 triliun.

Akibat kalahnya Patra Niaga tersebut, sempat muncul tudingan bahwa anak perusahaan Pertamina itu tidak efisien, sehingga tidak bisa memberikan harga yang kompetitif. [E1/P1]
</description>
<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 19:43:28 -0700</pubDate>
<guid isPermaLink="false">RSSPECT-001114591</guid>
</item>
</channel></rss>
